Jumat, 27 Januari 2012

Kristologi dari Zaman ke Zaman


Kristologi adalah cabang ilmu teologi yang membicarakan tentang posisi Yesus Kristus di dalam agama Kristen. Makna Kristologi bagi umat Kristiani selalu berkembang dari masa ke masa, dan tidak pernah mengalami tahap selesai, karena selalu dihubungkan dengan konteks umat Kristiani oleh para pemikirnya. Makna kehadiran Kristus bagi orang Kristen diyakini sebagai pemelihara dan penyelamat dunia terkait dengan setiap persoalan hidup.
Tema-tema seperti feminisme, teologi pembebasan atau kemerdekaan adalah tema-tema yang saat ini sedang populer pada zaman modern, di mana umat Kristen terus merenungkan makna Kristus itu. Tema-tema itu disebabkan adanya penindasan oleh perang, "eksklusivisme", kesenjangan sosial di masyarakat, dan sistem negara yang terkadang tidak adil pada seluruh ciptaan, termasuk alam Kristologi yang dihayati dalam kondisi alam yang rusak karena pemanasan global disebut Kristologi Ekologi. Kristologi yang berfokus pada seluruh ciptaan disebut Kristologi Kosmik, bahkan Yesus Kristus diuraikan diberikan delapan belas gambaran terkait dengan budaya adat-istiadat yang terus berubah.
Bagaimanakah perkembangan pemahaman tentang Kristologi dalam zaman yang terus ikut berkembang juga?

Penulis akan menjelaskan bagaimana perkembangan pemahaman tentang Kristologi di dalam makalah ini.
Kristologi dalam Ilmu Teologi
Dalam pembagian cara lama dan ilmiah, Kristologi dimasukkan dalam rumpun Teologi Sistematika-Dogmatika. Kristologi bagi umat Kristen merupakan penyataaan (wahyu) Allah kepada manusia melalui kedatangan Kristus. Kata 'Kristologi' berasal dari bahasa Yunani, Χριστός= kristos = Kristus dan λόγος =logos = logi = kata-kata = ilmu, singkatnya, ilmu tentang Kristus, pembicaraan tentang Kristus ini terkait dengan umat Kristen memahaminya dalam kehidupan sehari-hari; Yesus di masa lampau hingga masa kini, selama perjalanan itulah maka terus digeluti karena masih relevan dengan masalah-masalah di setiap zaman. Kristologi dan ajaran Trinitas tidak dapat dipisahkan satu terhadap yang lainnya, baik dalam sejarah, sistematika dan dogmatika. Selain itu, aspek penting lain yang menyertai pembicaraan ini adalah mengenai keselamatan atau soteriologi.
Pembicaraan tentang Kristus ini merupakan ajaran Kristen yang mempercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan. Perdebatan tentang Ketuhanan Yesus juga masih berlangsung sampai saat ini. Hal ini tampak dalam perdebatan seputar paham Trinitas (Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus) yang berbeda-beda. Perdebatan tersebut paling tampak dalam pemikiran Ireneus, Tertulianus dan Origenes. Perdebatan tentang keilahian mengenai kemanusiaan Kristus dan keilahian Kristus terus terjadi, setidaknya bisa kita ketahui dari uraian seorang tokoh besar Gereja Katolik Roma, Karl Rahner pada tahun 1960an yang menguraikan Yesus adalah seratus persen Allah dan seratus persen manusia. Di Indonesia, bisa dibandingkan pendapat dua orang teolog saat ini, Joas Adiprasetya dalam bukunya Berdamai dengan Salib yang menggugat Ionaes Rahmat dalam buku Soteriologi Salib.
Kristus sebagai Mesias
Melalui pendekatan biblis atau Hermeneutika Alkitab, ditemui sebutan bahwa Yesus adalah Mesias. Hal ini diperoleh dari Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Baru (Bahasa Yunani; Kristus) yang pada Perjanjian Lama disebut Mesias (Bahasa Ibrani).
Mesias dalam Perjanjian Lama
Mesias dalam Perjanjian Lama berarti keluarga Daud, raja yang selalu berjaya digantikan Mesias dalam Perjanjian Baru menjadi raja yang dibangkitkan dari kematian. Raja kerajaan yang gilang gemilang di masa akhir dan lambat laun akan menjadi pemimpin religius, bukan pemimpin politik.
Kata "Kristus" memiliki arti yang sama dengan Mesias yang artinya adalah "Yang Diurapi". Di dalam ajaran Kristen, kelahiran Yesus juga sudah dinubuatkan semenjak zaman nabi-nabi dalam Alkitab Perjanjian Lama, seperti dalam Natan, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Hagai dan Zakharia. Mesias di dalam Perjanjian Lama dinanti oleh orang Israel untuk memulihkan bangsa Israel dari berbagai masalah, terutama politik. Jadi, hadirnya Mesias adalah sebagai "solusi" dalam masa krisis, masa Israel ditawan oleh bangsa-bangsa lain.
Mesias dalam Perjanjian Baru
Dari berbagai istilah tentang Kristus pada orang-orang pada masa awal masehi sudah beragam. Informasi lain, Yesus disebut sebagai Mesias dari Israel, Mesias adalah Kristus disebutkan Paulus sebanyak 270 kali dan variasi nama Yesus Kristus atau Kristus Yesus sebanyak 109 kali. Nama itu menunjuk pada Allah, Tuhan atau kata ganti yang menjurus pada Allah.
Injil Yohanes dilihat sangat khusus dalam pandangan Kristologi, bahwa Firman atau λόγος, Allah sendiri menjadi manusia, dalam wujud Kristus. Di sini dijelaskan bahwa Kristus yang adalah Yesus itu adalah Allah sendiri, Ketuhanan Yesus merupakan pusat Teologi Perjanjian Baru, menurut Miller, "Yesus adalah Allah".
Abad Pertama Masehi
Kristologi yang ditemukan dari Injil berpusat pada sejarah kehidupan Yesus dalam tindakan-tindakannya. Hal tersebut dapat dilihat melalui beberapa pernyataan tokoh-tokoh di dalam kitab-kitab Perjanjian Baru. Jawaban-jawaban tentang siapa Yesus, adalah sebagai berikut:
  • Paulus : Yesus adalah Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan.
  • Markus : Yesus adalah Mesias.
  • Matius : Yesus adalah Musa baru, pengajar hukum baru.
  • Lukas : Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, adalah Juru Selamat semua orang.
  • Yohanes - Yesus adalah Sabda Allah yang menjelma sebagai manusia.
Yesus pada zaman-Nya dikenal sebagai orang Nazaret yang bertindak revolusioner, sebagai orang Yahudi yang melampaui Hukum Taurat. Dari ajaran-ajarannya itulah, orang-orang (Kristen) dari zaman Perjanjian Baru hingga saat ini mempercayai-Nya sebagai Tuhan.
Kristologi Abad 2 - 11
Pada abad kedua, Kristologi belum terlalu diperdebatkan, namun sudah terdapat banyak pertanyaan ontologis tentang Ketuhanan Yesus. Masyarakat waktu itu ingin sekali mengetahui siapa Yesus sebenarnya, dalam kaitannya dengan Allah. Kemudian secara hakekat, terdapat tokoh bernama Arius yang mengatakan bahwa Allah tetap Allah, dan hanya ada satu, Allah tidak mungkin ada bersatu (sehakekat) dengan sesuatu yang terbatas. Menyebut Yesus "Anak Allah" sama artinya menghujat Allah karena yang ilahi dan tak terbatas disatukan dengan yang jasmani dan terbatas.
Kristologi Logos
Kristologi-Logos ini terdapat dalam Injil Yohanes 1:1-4 bahwa fungsi logos ada dua: kosmomologis yaitu sebagai penciptaan dan revelatoris-soteriologis yang artinya Penyelamat melalui Pewahyuan. St. Ignasius dari Antiokhia menyebutkan Yesus "Sang Logos" yang mana Logos (sabda) itu tidak lagi berdiam diri, melainkan menyatakan diri untuk menyelamatkan. Jadi bagi Ignasius, sabda adalah keseluruhan tujuan komunikasi, revelatoris-soteriologis, bukan fungsi kosmologis. Ajaran Kristologis Logos dipisah menjadi dua, yaitu yang klasik dan yang modern.
Arianisme
Arianisme adalah ajaran yang dikeluarkan oleh Uskup Arius pada tahun 300. Dister menganggapnya sebagai kecenderungan manusia untuk mempersempit misteri Allah. Arius menganggap Yesus sebagai ciptaan saja, walaupun paling agung, hal ini dipengaruhi dengan gambaran Allah pada dirinya, lalu dia menyimpulkan "Yesus bukan Allah".           
Nestorianisme
Nestorianisme adalah ajaran yang dikeluarkan oleh Uskup Nestorius pada tahun 400. Menurut Nestorius, Putra Allah di surga dan manusia Yesus di bumi bukanlah satu pribadi yang sama, melainkan dua pribadi. Keduanya memang berkaitan satu sama lain, tapi toh tinggal tetap dua. Akal budi manusia ingin mempertahankan gambaran Allah yang "murni", surgawi dan rohani. Maka Allah Putra dipisahkan dari Yesus yang pernah berkeliling di dunia ini.
Monofisitisme
Monofisitisme adalah ajaran yang meyakini bahwa Yesus hanya satu kodrat, yaitu ilahi. Monofisit berasal dari Bahasa Yunani, νόμος yaitu satu, dan φύσης berarti kodrat, jadi Kristus hanya memiliki satu kodrat, hal ini bertentangan dengan Nestorianisme. Yesus yang berjalan-jalan di bumi sebenarnya adalah Allah, kemanusiaan Yesus dianggap hanya semu saja.
Modern
Teologi memang selalu mengikuti perkembangan, tidak komprehensif,  namun framentaris, kontekstual, multikultural, dapat diterima oleh budaya setempat. Teologi Kristen yang berpusat pada kristologi juga demikian, perjumpaan dengan Kristus selalu dialami dalam konteks tertentu, mengindahkan kenyataan hidup umat (Kristen) yang dilayani yang berada dalam pluralisme konteks.
Kristologi dalam perjumpaan dengan umat beragama lain dapat membantu umat Kristen membaca Kristus dengan lebih luas, Kristus dalam Filipi 2:7-8 menyatakan Kristus sebagai manusia, bahkan hamba. Ini komentar dari umat Buddha di Srilanka. Dari Umat Islam, Kristus adalah Nabi, mengikuti Yesus berarti mengikuti nabi dan hidup profetis, menjadi saksi Allah dalam berbela rasa terhadap penderitaan mansuia. Kristus bukan milik ekslusif Gereja lagi, namun terbuka bagi kehidupan universal.
Isu-isu pada zaman modern yang harus dijawab oleh Teologi (Kristologi) sangat beragam, pluralisme, kemiskinan, perang, penderitaan, bencana alam dsb. John Hick mengutip pandangan Knitter tentang keunikan Yesus dalam lima hal, di antaranya adalah agama lain mungkin juga menjadi bagian dari karya Allah yang ingin menyelamatkan manusia, namun tidak senyata-nyata seperti Kristus, agama lain lebih pada kemungkinan-kemungkinan atau probabilitas, dalam dialog antar iman, Kristus sebagai wahyu sangatlah kuat, bahkan terus membuka ruang untuk didiskusikan, Allah sungguh-sungguh berkarya dalam Kristus, Kristus memedulikan keadilan sosial, dan di sini kasih Kristus dilihat secara hubungan mutualis karena kasih-Nya dibutuhkan dalam situasi ini, yaitu sebagai pembebas. Dalam pandangan Yesus sebagai Anak Allah adalah Juruselamat secara universal, dan Tuhan sebagai muara akhir yang transenden dan misteri, hal ini melengkapi kriteria Tuhan yang tidak bisa dijangkau manusia. Kristologi sangat bersifat soteriologis kontekstual yang membangun suatu komunitas manusiawi antar iman. Kristologi juga ditemukan dalam Christo-Praxis dan Christo-doxi yang terus menerus dan kontekstual. Di sini Kristologi dihadapkan pada mamon yaitu kekuatan materialisme yang membawa kehidupan berpusat pada harta benda.
Krsitologi Feminis
Kristologi Feminis adalah Kristologi yang memakai pendekatan feminis, yakni dari kacamata ketidakadilan, penindasan dan penderitaan. Kristologi ini dibagi menjadi dua, yaitu di Barat disebut Kristologi ekofeminis dan di Timur disebut Kristologi feminis kosmis. Allah umat Kristen yang selama ini didominasi oleh kaum laki-laki karena dalam diri Yesus yang laki-laki kemudian digeser menjadi Kristus yang menyimbulkan keduanya. Kata logos yang tadinya dalam Injil Yohanes 4:1-42 adalah maskulin yang menjadikan kecenderungan patriarkal, maka dipahami sebagai sofia dalam perspektif feminis. Hal ini diperoleh dari kehidupan Yesus yang sangat menghargai kaum perempuan, dalam karya-karyanya, bahkan ketika Dia bangkit, perempuanlah yang pertama kali melihat kuburnya yang kosong. Simbol sofia digunakan oleh Paulus untuk menggambarkan Yesus sebagi hikmat Allah dalam I Korintus 1:24. Kristologi feminis-kosmis mengajak umat Kristen untuk mendengarkan korban ketidakadilan dan menginternalisasikan jeritan itu menuju praksis solidaritas.
Dimensi Kristologi
Ketuhanan Yesus "Yesus adalah Tuhan", hal ini diyakini umat Kristen dan Katolik. Ini problem terbesar bagi orang Kristen ketika diperhadapkan dengan orang-orang beragama lain. Inilah yang membedakan umat lain, sebab tidak sama dengan tokoh-tokoh panutan agama lain seperti Krisna, Muhammad, Sang Budha, Konfusius atau Lao Tse. Namun Yesus Kristus diyakini umat Kristen sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Keilahian Kristus adalah hakekat Kristus sebagai Tuhan. Sebutan "Tuhan Yesus" dimulai dari teologi di negara-negara Barat. "Jesus Lord" diartikan Tuhan Yesus.

Kemanusiaan Yesus
Pada abad-abad pertama dan kedua, Bapa-bapa Gereja lebih memikirkan hakekat keilahian Kristus, tidak terlalu dijelaskan tentang kemanusiaan-Nya. Seperti yang diyakini oleh Athanasius yang mengakui jiwa Kristus, namun tidak benar-benar meyakini kemanusiaan Kristus, dia berpusat pada soteriologi melalui logos itu. Namun pembicaraan dalam masyarakat sangatlah kuat akan hakekat, yaitu "se-hakekat" (homo-usios), atau serupa hakekatnya (homoi usios), atau serupa saja (homoios). Pernyataan pertama oleh Konstantinopel, dengan filsafat Yunani, bahwa Kristus tidak akan bisa menyelamatkan manusia sebagai Allah, kalau dia tidak juga menjadi manusia. Hal ini bertolak dari Injil-Injil yang menceritakan Yesus sebagai manusia. Jadi manusia sebenarnya dapat diilahikan melalui persatuan dengan Kristus melaui Perjamuan Kudus. Namun paham ini segera ditolak oleh seseorang bernama Apollinaris dari Laodikia (meninggal kira-kira 390 M.) yang menyatakan bahwa dalam kemanusiaan Kristus Logos ilahi menggantikan akal budi manusiawi, dan mengurangi kemanusiaan dalam Kristus. Namun, ia segera menyadari bahaya yang memporak-porandakan kesatuan keilahian dan kemanusiaan Kristus. Sebagai seorang yang teguh mempertahankan konfesi Nicea dan teman seperjuangannya Athanasius. Dia menolak hakekat Kristus sebagai manusia. Namun kayakinan ini nanti akan mengalami penentangan oleh konsili-konsili (Efesus dan Khalsedon)yang mengutuknya, sehingga pengikutnya kembali ke gerja resmi dan sebagian mengikuti dalil monofisitisme. Ajarannya disebut oleh Gereja Roma dekat dengan doketisme. Ajaran ini dikuatirkan oleh Konsili Khalsedon dengan alasan jika Kristus tidak sepenuh-penuhnya manusia, maka mustahil manusia dipersatukan dengan Allah. Sejarah gereja oleh  Nestorius dari Cyrillus juga tidak mengakui hakekat kemanusiaan Kristus, apalagi ada sebutan Bunda Allah bagi Maria, hal ini tidak masuk akal banginya. Jika Yesus melakukan tindakan yang penuh kuasa (mujizat) maka sebenarnya yang bertindak adalah Allah, jika Yesus sengsara dan mengalami mati, maka dia adalah manusia. Namun, hal ini bukanlah merupakan keesaan, melainkan keduaan, sebab hakekat mereka tidaklah sama.
Kesimpulan
            Dari zaman ke zaman, Kristologi memiliki banyak pandangan. Ini membuktikan bahwa Kristologi pun tidak “mati”, melainkan mengalami pembaharuan, sesuai dengan perkembangan zaman. Entah beberapa tahun setelah penulis menulis makalah ini, akan didapati pandangan yang baru tentang Kristologi.
DAFTAR PUSTAKA
Adiprasetya, Joas. Berdamai dengan Salib. Jakarta: Grafindo, 2010.
Clifford, Anne M. The Clash of Christologcal Symbols dalam Christology. USA: The College Theology Society, 2003.
Groenen, C. Pustaka Teologi Sejarah Dogma Kristologi. Yogyakarta: Kanisius, 1998.
Johnson, Elizabeth. Kristologi di Mata Kaum Feminis. Yogyakarta: Kanisius, 2003.
Lohse, Bernard. Pengantar Sejarah Dogma Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006.
Siahaan, S.M. Pengharapan Mesias dalam Perjanjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.
Syukur, Nico. Teologi Sistematika - Allah Penyelamat. Yogyakarta: Kanisius, 2004.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar